Hikmah Rukun Sa’i yang Dicontohkan Ibunda Siti Hajar

Kategori : Umrah, Haji, Ditulis pada : 13 Desember 2024, 15:07:08

Berbicara mengenai ibadah haji dan umrah pastinya sangat menarik bagi seorang muslim, apalagi bagi Anda yang sedang mempersiapkan diri untuk berangkat ke Baitullah. Banyak hikmah yang dapat Anda ambil dari perjalanan ibadah haji dan umrah. Selain menambah spiritualitas Anda, Anda dapat memaknai setiap ibadah yang Anda jalani ketika di tanah haram.

Terutama saat menunaikan rukun-rukun haji dan umrah, salah satunya adalah rukun sa’i. Sa’i merupakan rukun ketiga setelah ihram dan thawaf. Serupa dengan rukun-rukun yang lain, sa’i mempunyai karakteristik khusus dalam aktivitasnya. Istimewanya lagi, Anda dapat memetik hikmah dari sejarah mengapa sa’i menjadi rukun yang tidak boleh Anda lewatkan.

16.jpg

Photo by Mohamed Nohassi on Unsplash

Menurut bahasa, sa’i artinya usaha. Sedangkan rukun sa’i yang kita kenal artinya lari-lari kecil bolak-balik sebanyak 7 kali antara bukit Shafa dan Marwa, diawali dari bukit Shafa dan terakhir di bukit Marwa.

Jarak antara bukit Shafa dan Marwa yaitu sejauh 400 meter, sehingga total menempuh jarak  kurang lebih 3 kilometer apabila bolak-balik sebanyak 7 kali. Tentunya, Anda wajib memiliki persiapan kesehatan tubuh sebelum menjalani rukun ini. Misalnya, berolahraga dengan teratur seperti berjalan berapa langkah per hari, jogging atau lari setiap pagi, atau lainnya yang dapat menambah kekuatan fisik Anda. Jadi tubuh Anda jauh lebih kuat ketika menunaikan rukun haji dan umrah seperti sa’i.

Sejarah Sa’i

Bila melihat sejarahnya, rukun sa’i ini berawal dari kisah Nabi Ibrahim ketika diperintahkan oleh Allah SWT untuk hijrah dari Palestina ke Makkah. Waktu itu, adalah hal yang berat untuk Nabi Ibrahim diperintahkan meninggalkan istri dan anaknya, Siti Hajar dan Ismail kecil di lembah yang gersang nyaris tanpa kehidupan di sana.

Siti Hajar hanya pasrah berjalan dibelakang suaminya, pun saat Nabi Ibrahim pergi meninggalkannya di Makkah. Siti Hajar tidak mengerti dengan apa yang terjadi, bolak-balik ia menanyakan pada Nabi Ibrahim yang enggan menjawab. Akhirnya ia bertanya, “Hendak kemanakah Engkau, wahai Ibrahim?” Namun Nabi Ibrahim tidak menjawab.

Lalu Siti Hajar bertanya, “Kepada siapakah kami ditinggalkan di lembah ini? Apakah Allah SWT yang menyuruhmu, wahai Ibrahim?” Kemudian Nabi Ibrahim menjawab, “Ya, Allah yang menyuruhku.” Dengan wajah yang berseri-seri kemudian ibunda Ismail menjawab, “Laa Yudhoiyyuna ya Allah,” yang artinya ‘Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.

Nabi Ibrahim pun kembali ke Palestina. Meninggalkan Siti Hajar dan Ismail kecil di lembah gersang tersebut demi ketaatannya kepada Allah SWT. Ia menyerahkan segala urusan pada Allah. Siti Hajar, sebagai istri yang shalihah juga beriman kepada Allah SWT yakin bahwa dirinya akan ditolong oleh Allah.

Selama berhari-hari ia terus usaha untuk bertahan hidup dengan perbekalan yang ia bawa. Sampai suatu hari perbekalannya sudah habis, Ismail kecil juga terus menangis karena air susunya tidak keluar. Kemudian, Siti Hajar berusaha mencari sumber air di antara dua bukit yaitu bukit Shafa dan bukit Marwa.

Siti Hajar berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwa tanpa tahu di mana letak sumber air, hanya fatamorgana yang ia lihat. Ia bolak-balik sebanyak 7 kali, sembari terus berdoa kepada Allah, yakin Allah akan memberikan pertolongan kepadanya. Tentu saja, Allah memberikan pertolongan-Nya di saat yang tepat.

disangka, Siti Hajar telah berjalan bolak-balik Shafa dan Marwa, tapi Allah justru menghadirkan sumber mata air dari bawah kaki kecil Ismail yang menendang-nendang, Sumber air tersebut sangat melimpah, bahkan sampai sekarang masih bisa Anda temuki yang dikenal dengan Air Zam-zam. Sungguh luar biasa, apabila Allah telah menghendaki apapun bisa menjadi kenyataan.

pexels-pixabay-221189.jpg

Foto oleh Pixabay dari Pexels

Nama Zamzam juga memiliki kisah, disebut air zamzam karena sumber air tersebut terus memancar tiada henti bahkan diumpamakan kota Makkah bisa tenggelam apabila hal tersebut terus terjadi. Maka, Siti Hajar berucap “Zamzam, zamzam!” yang berarti, “Kumpullah, kumpullah!’ sehingga mata air tersebut tetap memancar namun tidak berlebihan.

Hikmah Sa’i

Belajar dari Siti Hajar, ada banyak hikmah yang bisa Anda petik dari rukun sa’i. Berbagai nilai-nilai positif yang dapat Anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut beberapa hikmah yang dapat Anda simak:

Belajar Tentang Keimanan

Siti Hajar merupakan salah satu hamba yang dicintai Allah karena keimanannya. Ini terbukti dari reaksi beliau saat Nabi Ibrahim menyatakan bahwa apa yang dilakukannya adalah karena perintah Allah SWT. Ia juga yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakannya, walaupun secara kasat mata ia tinggal di tanah yang gersang saat itu.

Bersikap Tawakkal

Siti Hajar juga memperlihatkan betapa ia sangat tawakkal kepada Rabbnya. Berbeda dengan pasrah, tawakkal yaitu sikap menyerahkan segala apa yang terjadi sesuai dengan kemauan Allah. Jadi, dalam tawakkal juga ada peran ikhtiar Siti Hajar di dalamnya. Tugas kita adalah berusaha, tapi soal keputusan Allah yang menentukan. Sehingga tetap memasrahkan diri kepada Allah sebagai satu-satunya pemberi pertolongan dan Yang Maha Berkehendak.

Mendahulukan Ikhtiar

Seperti pemaparan di atas, tawakkal tetap diiringi dengan usaha. Ibunda Siti Hajar mencontohkan bagaimana ia tak berputus asa mencari sumber air antara bukit Shafa dan Marwa. Ia tetap bergerak tanpa henti, diiringi keimanan dan sikap tawakkalnya untuk terus berusaha. Sehingga Allah berikan pertolongan mata air zamzam di bawah kaki Ismail kecil.

Jika dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, Anda boleh berikhtiar dengan cara apapun selama itu dengan cara yang diridhoi Allah. Namun, terkadang Allah hadirkan penyelesaian dari arah yang tidak disangka-sangka. Tak selalu dari apa yang Anda harapkan, tetapi tetap meyakini bahwa itulah yang terbaik menurut Allah.

Ikhlas

Sebagai penutup, dari sa’i Anda dapat belajar tentang keikhlasan. Bagaimana Siti Hajar sangat ikhlas menjalani ketetapan takdir yang Allah berikan, menaati perintah-Nya dengan ikhlas tanpa keluhan saat ditinggalkan Nabi Ibrahim, ikhlas merawat Ismail, dan seterusnya. Tanpa adanya keikhlasan, akan sulit menerima ketetapan Allah, karena sifat manusia yang tak pernah ada puasnya.

Nah, itulah hikmah rukun sa’i yang dapat Anda pelajari dari kisah Siti Hajar. Semoga dapat menambah keimanan Anda, juga semakin bersemangat saat menjalankan ibadah haji dan umrah. Semoga bermanfaat!

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id