Antrean Haji Makin Lama, Perlukah Kita Mendaftar Sejak Lahir?
Jemaah yang sedang melangsungkan ibadah di tanah suci Mekkah. (Foto: Arsip Noor Thoibah)
Setiap tahun, jutaan umat Muslim dari seluruh dunia berusaha untuk menunaikan ibadah haji. Namun, di Indonesia, antrean haji reguler semakin panjang, bahkan bisa mencapai puluhan tahun. Hal ini membuat banyak orang berpikir, apakah sebaiknya kita mulai mendaftarkan anak sejak lahir agar mereka bisa berangkat lebih cepat?
Haji adalah salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan bagi mereka yang mampu secara fisik dan finansial. Namun, keterbatasan kuota yang diberikan pemerintah Arab Saudi kepada setiap negara membuat jumlah jemaah yang bisa berangkat setiap tahun sangat terbatas. Di Indonesia, kuota haji setiap tahunnya memang bertambah, tetapi tidak sebanding dengan jumlah pendaftar baru yang terus meningkat. Oleh karena itu, antrean pun semakin panjang.
Selain itu, meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya haji juga berkontribusi terhadap lonjakan pendaftar. Dengan populasi Muslim terbesar di dunia, wajar jika Indonesia memiliki antrean haji yang luar biasa panjang. Dilansir dari laman Kemenag RI, antrean haji di Kalimantan Selatan (Kalsel) selama 38 tahun. Kuota sebanyak 3.859 orang, sedangkan yang mendaftar berkali-kali lipat dari kuota yang tersedia yakni sebanyak 133.141 orang. Situasi ini tentu menjadi dilema, terutama bagi mereka yang baru ingin mendaftar di usia dewasa.
Mendaftarkan anak sejak lahir tentu memiliki beberapa keuntungan. Salah satu yang paling jelas adalah anak dapat berangkat haji di usia muda, saat fisik masih prima. Mengingat ibadah haji cukup berat dengan berbagai rangkaian kegiatan seperti tawaf, sa’i, dan wukuf di Arafah, tentu lebih mudah dijalani oleh mereka yang masih dalam kondisi fisik yang baik.
Jemaah yang sedang melangsungkan ibadah di tanah suci Mekkah. (Foto: Arsip Noor Thoibah)
Selain itu, biaya haji cenderung meningkat setiap tahun. Dengan mendaftar lebih awal, setidaknya kita bisa mengamankan slot keberangkatan sebelum biaya menjadi lebih mahal. Hal ini dapat membantu orang tua dalam merencanakan keuangan mereka dengan lebih baik. Jika sudah terdaftar lebih awal, kenaikan biaya ini tidak akan terlalu berdampak.
Meskipun terdengar menguntungkan, ada beberapa tantangan yang perlu dipertimbangkan sebelum mendaftarkan anak untuk haji sejak lahir. Salah satunya adalah faktor kesiapan mental dan spiritual. Haji bukan sekadar perjalanan ke Tanah Suci, tetapi sebuah ibadah yang memerlukan kesiapan hati dan niat yang tulus. Jika anak tidak memiliki keinginan kuat untuk berhaji ketika dewasa, apakah pendaftaran sejak lahir benar-benar menjadi keputusan yang tepat?
Selain itu, aturan dan kebijakan haji bisa berubah di masa depan. Saat ini, sistem antrean haji masih berlaku, tetapi tidak ada yang tahu apakah aturan ini akan tetap sama dalam 20 atau 30 tahun ke depan. Bisa saja ada perubahan kebijakan yang membuat pendaftaran sejak lahir menjadi tidak lagi relevan.
Bagi yang ingin menghindari antrean panjang, jalur haji furoda atau haji khusus bisa menjadi solusi. Noor Thoibah Tour & Travel menawarkan berbagai pilihan haji dengan keuntungan terbaik. Haji Furoda memungkinkan berangkat haji tahun ini tanpa antrean dengan harga mulai dari USD 13.500. Sementara itu, Haji Khusus lebih terjangkau dengan porsi resmi pemerintah, estimasi keberangkatan sekitar 8 tahun, dan bisa lebih cepat jika percepatan disetujui, dengan DP mulai dari Rp2,5 juta. Khusus di pameran Noor Thoibah di Q Mall Banjarbaru pada 26-30 Maret 2025, ada promo eksklusif berupa DP Rp0 alias GRATIS pendaftaran Haji Khusus! Selain itu, tersedia hadiah menarik, diskon besar, dan banyak promo spesial lainnya yang sayang untuk dilewatkan.
Pada akhirnya, keputusan untuk mendaftarkan anak sejak lahir kembali kepada kondisi dan prioritas masing-masing keluarga. Jika memiliki kemampuan finansial dan yakin dengan manfaatnya, tidak ada salahnya mendaftarkan anak sejak dini. Namun, jika masih ragu atau memiliki prioritas lain, alternatif seperti menabung haji atau mengutamakan umrah bisa menjadi pilihan yang lebih fleksibel.
Penulis: Muhammad Samman